IKLAN ANDA 728 X 90

Allah SWT Menguji HambaNya Dengan Penyakit

Allah menguji hambanya dengan penyakit


Penyakit adalah ujian

Allah menguji hambanya dengan penyakit - Sebelum berbicara tentang bagaimana seorang mukmin bersikap saat sakit atau sedang mengalami suatu musibah, penting untuk memahami apa yang diajarkan Islam tentang kehidupan dunia ini. 

Keberadaan kita di bumi ini hanyalah perhentian sementara, atau tempat istirahat sejenak dalam perjalanan menuju kehidupan sesungguhnya kita di akhirat nanti. Surga atau Neraka akan menjadi tempat tinggal permanen kita. Dunia ini adalah tempat uji coba. Allah SWT menciptakannya untuk kita, untuk kenikmatan hidup, tetapi itu adalah tempat lebih dari sekadar kesenangan duniawi. 

Di sinilah kita memenuhi tujuan sejati kita; kita menjalani hidup kita berdasarkan pada pengabdian kepada Allah SWT.  Kita bisa tertawa, kita bisa merasakan kenikmatan tinggal di dunia ini, tetapi disisi lain kita juga bisa menangis dan merasakan sakit dan kesedihan. 



Semua itu kita jalani dengan syukur dan sabar dan bersyukur dan berharap untuk karunia abadi yaitu surga-Nya. Kita takut akan siksaan abadi dan tahu dengan pasti bahwa Allah SWT adalah sumber dari semua belas kasihan dan semua pengampunan.


وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ


64. "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui"

Allah SWT tidak menciptakan kita dan kemudian meninggalkan dan membiarkan kita sendirian untuk kesenangan maupun ujian hidup; melainkan Dia mengutus Rasul dan Nabi untuk mengajar kita dan Kitab wahyu untuk membimbing kita dalam menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Dia juga memberi kita Rahmat dan Karunia-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Dan pada setiapnya membuat hidup indah dan nyaman. Jika kita berhenti sejenak dan merenungkan keberadaan kita, karunia dan pemberian-Nya menjadi jelas. 


وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung, nikmatilah Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan setuju. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . ”(QS. An Nahl: 18).

Silahkan amati hujan yang turun dari atas awan, rasakan pancaran lembut sinar matahari pada kulit, sentuh dada kita dan rasakan detak jantung yang berdetak teratatur. Ini adalah berkah dan karunia dari Rabb yang Maha Pemberi dan kita harus berterima kasih dan bersyukur pada-Nya, bersamaan juga dengan karunia atas rumah yang kita tinggali, anak istri, dan kesehatan kita.

Namun Allah SWT memberi tahu kita, bahwa kita akan diuji,


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (Quran 2: 155)

Allah telah menganugerahkan kepada kita untuk kesanggupan menanggung cobaan dan kesengsaraan dan melaluinya dengan sabar.  Namun, ini sulit tanpa memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi atas izin Allah. 

Tidak ada daun jatuh dari pohon tanpa izin Allah SWT, di pelosok manapun di dunia ini. Tidak ada bisnis yang hancur, tidak ada mobil yang mogok, tidak ada pernikahan yang berakhir tanpa izin-Nya. 

Tidak ada penyakit atau sihir dan santet yang mengenai manusia tanpa seizin Allah. Dia memiliki kuasa atas semua hal. Allah melakukan apa yang Dia lakukan untuk alasan yang kadang-kadang di luar pemahaman kita dan untuk alasan yang mungkin atau mungkin tidak jelas. 

Namun Tuhan, dalam kebijaksanaan dan belas kasihan-Nya yang tak terbatas hanya menginginkan yang terbaik bagi kita. Pada akhirnya, yang terbaik bagi kita adalah kehidupan abadi di tempat kebahagiaan abadi, yaitu Syurga Firdaus.


يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ


"Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal" (Quran 9:21)

Dalam menghadapi setiap cobaan, seorang mukmin harus yakin bahwa Allah tidak memerintahkan apa pun baginya kecuali hal yang baik. Tidak melarang kecuali untuk kebaikan hamba-Nya.  Kebaikan mungkin ada di antara kesenangan dunia ini atau diberikan nanti di akhirat. 

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Allah SWT ketika menguji kita dengan cobaan dan kesengsaraan hidup, dan jika kita sabar menanggungnya, kita akan mendapatkan pahala yang besar. 

Melalui perubahan keadaan dan kondisi di masa-masa ujian itu Allah menguji tingkat keimanan kita, diantaranya Dia menguji hambaNa dengan penyakit yang diderita; memastikan kemampuan kita untuk bersabar dan menghapus sebagian dari dosa-dosa kita. Dia yang Maha Pengasih mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. 

Kita tidak akan mencapai Syurga Firdaus tanpa Rahmat dan kasih sayang-Nya yang semua itu harus dilalui dalam ujian dan pencobaan dalam kehidupan ini.

Kehidupan dunia ini hanyalah tipuan. Hal yang paling menguntungkan bagi kita adalah perbuatan baik yang bisa kita lakukan. Keluarga adalah ujian, karena Allah menginformasikan dalam al Qur'an bahwa mereka dapat menyesatkan kita, tetapi dalam waktu bersamaan mereka dapat menuntun kita ke Firdaus. 

Allah SWT menginformasikan kepada kita hal tersebut dalam Al Qur'an surah al-Munaafiqun ayat ke 9:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ


"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi".


Harta dan kekayaan adalah cobaan; menginginkannya dapat membuat kita serakah dan pelit bin kikir bin bakhil, tetapi membagikannya dan menggunakannya untuk memberi manfaat kepada mereka yang membutuhkan dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT. 



Kesehatan juga merupakan cobaan. Kesehatan yang baik dapat membuat kita merasa tak terkalahkan dan tidak membutuhkan Tuhan, tetapi kesehatan yang buruk memiliki caranya sendiri untuk merendahkan kita dan memaksa kita untuk bergantung pada Rabb sekalian alam.   

Apa yang terjadi jika kesenangan hidup ini tiba-tiba menjadi penderitaan? Bagaimana seharusnya seseorang berperilaku ketika terkena penyakit atau cedera? Tentu saja, kita menerima nasib kita dan berusaha menanggung rasa sakit, kesedihan, atau penderitaan dengan sabar karena kita tahu dengan pasti bahwa dari Tuhan ini akan menghasilkan banyak kebaikan. 

Rasulullah bersabda: "Tidak ada kemalangan atau penyakit menimpa seorang Muslim, tidak ada kekhawatiran atau kesedihan atau bahaya atau kesusahan - bahkan duri yang menusuknya - tetapi Allah akan menebus sebagian dosanya karena itu."  

Namun, kita adalah mahluk yang tidak sempurna. Kita dapat membaca hadist ini, kita bahkan dapat merenungi isi dan maksudnya, tetapi memperlakukannya dalam kehidupan  terkadang sangat sulit. 

Adalah jauh lebih mudah untuk meratapi dan menangisi situasi penderitaan kita, tetapi Allah yang Maha Penyayang telah memberi kita pedoman yang jelas dan menjanjikan kita dua hal, jika kita menyembah Dia dan mengikuti bimbingan-Nya kita akan diberikan balasan yang besar dengan Syurga Firdaus dan bahwa setelah kesulitan datang kemudahan.

"Sesungguhnya, dengan kesulitan, ada kemudahan." (Al-Quran 94: 5)

Seorang mukmin wajib menjaga tubuh dan pikirannya, oleh karena itu berusaha mempertahankan kesehatan yang baik sangat penting. Namun, ketika terserang penyakit atau cedera, sangat penting untuk mengikuti bimbingan Tuhan.  Jangan sembarangan dalam mencari kesembuhan, jangan asal sembuh tapi dengan mensekutukan Allah SWT seperti berobat ke orang pinter dan paranormal.


Seorang mukmin harus mencari bantuan ahli medis atau penyembuhan dengan  melakukan segala yang dia bisa untuk menyembuhkan penyakit yang diderita, tetapi pada saat yang sama dia harus mencari bantuan melalui doa, bacaan dari ayat-ayat al Qur'an, pengingatan akan Allah dan tindakan ibadah. Islam adalah cara hidup holistik, baik kesehatan fisik, mental dan spiritual berjalan beriringan. 

Allah SWT memberikan kita ganjaran dengan kehidupan abadi dan jika rasa sakit dan penderitaan datang bisa menghantarkan kita kepada Syurga Firdaus, maka kesehatan dan cedera adalah berkah. 

Nabi Muhammad berkata, "Jika Tuhan ingin berbuat baik kepada seseorang, Dia menimpanya dengan cobaan."  Dan ujian itu bisa berupa penyakit yang menjangkiti badan seperti serangan sihir dan santet.

Ketika penyakit menyerang, tindakan terbaik adalah bersabar dan bersyukur kepada Allah termasuk dalam kondisi seperti ini, berusaha menjadi lebih dekat dengan-Nya dan mencari bantuan ahli medis dan selalu berdoa kepadaNya disamping juga mengingat karunia-karunia yang telah Dia berikan kepada kita.

Bagi yang memerlukan penjelasan dan konsultasi lebih lanjut mengenai pengobatan ruqyah dengan al Qur'an bisa menghubungi Terapi Ruqyah Rumah Sehat.


Wallahu a'lam


Pojokan Jatisari 31/12/2018
Terapi Ruqyah Rumah Sehat




Allah SWT Menguji HambaNya Dengan Penyakit Allah SWT Menguji HambaNya Dengan Penyakit Reviewed by diruqyahsajadotcom channel on Desember 31, 2018 Rating: 5
Posting Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.