KONSULTASI TELP/WA 0813 1742 6708


terapi ruqyah gangguan jin, rahim wanita, efek setelah ruqyah, penyakit stroke, cara menghilangkan sihir, santet, guna-guna

Terapi Ruqyah Rumah Sehat

Jangan Sedih Berkepanjangan Karena Akan Melukai

Jangan sedih berkepanjangan

Jangan bersedih, semua sudah ditetapkan Allah SWT.

Jangan sedih berkepanjangan - Dalam suatu riwayat disebutkan tentang Ibrahim bin Adham, seorang ulama besar dan ahli tasawuf generasi awal.  Kisah-kisah Ibrahim bin Adham banyak ditulis dalam kitab-kitab dan kisah spiritualnya sering kita dengar sampai hari ini.

Suatu ketika beliau berjumpa dengan seorang laki-laki yang terlihat sedang sangat sedih, murung dan tidak bersemangat.  Ulama ini bertanya bolehkah dia mengajukan 3 pertanyaan untuknya dan memintanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

"Baiklah", jawab orang yang sedang terlihat sedih tersebut.

Artikel terkait: Lama menikah namun belum punya keturuan? Mungkin ada gangguan non medis.

Ibrahim bertanya: "Apakah ada hal yang terjadi di alam ini yang tidak dikehendaki Allah?"

Laki-laki itu menjawab: "Tidak".

Lalu Ibrahim in Adham bertanya lagi: "Apakah rezekimu berkurang dari apa-apa yang telah ditetapkan Allah bagimu?"

Orang yang sedang murung itu menjawab: "Tidak, tidak berkurang".

"Apakah ada suatu saat waktu dalam kehidupanmu yang berkurang setelah ditetapkan Allah bagimu", Ibrahim bertanya untuk ketiga kalinya.

Sekali lagi orang sedih itu menjawab: "Tidak berkurang".

Kemudian Ibrahim bin Adham berkata: "Lalu kemudian mengapa engkau masih bersedih?"

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak ada satupun yang terlepas dari pengawasan dan  kehendak Allah, bahkan daun yang jatuh dari sebuah pohon yang terletak di sudut dunia yang tidak pernah dijamah manusia pun sama demikian pula.  

Allah SWT yang menguasai segala sesuatunya.

Demikian pula rezeki, ketika sudah ditetapkan semenjak manusia berada di rahim ibunya, tidak akan berkurang, sampai habis dinikmati jatah rezekinya barulah orang tersebut meninggal, kembali kepada al Khalik.

Sama juga dengan umur kita, tidak akan berkurang ketika sudah ditetapkan Allah SWT.

Jadi untuk apa sedih berkepanjangan dan berlarut-larut?

Jangan sedih berkepanjangan karena akan melukai.

Sedihnya para Nabi dan orang sholih.

Kesedihan adalah bagian dari fitrah kemanusiaan. Dan tidak ada satu pun manusia bisa yang bisa lepas dari kesedihan, termasuk para Nabi dan Rasul. 

Semua orang hampir bisa dipastikan pernah mengalami yang namanya kerundungan, kesedihan, kepayahan.  Tetapi hanya sebagian kecil waktu saja dari seluruh kehidupan.   

Nabi Ya’kub pernah merasa sedih dikarenakan kehilangan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, yang diceburkan ke dalam sebuah sumur oleh saudara-saudarnya sendiri.  Semua bermula dari rasa cemburu dan iri hati.

Nabi Nuh ‘alaihissalam sedih karena kehilangan anak dan istrinya karena banjir yang sangat dahsyat, kesedihan karena mereka tidak mau mengikuti kebenaran.  Hidayah Allah sangat mahal nilainya.

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersedih tatkala kehilangan istri dan paman tercinta, Abu Thalib, sehingga masa-masa itu disebut dengan "ammul huzni” (tahun kesedihan). 

Pun ketika kehilangan putra terkasih, Ibrahim.

Namun, kesedihan para Nabi dan Rasul dan juga orang-orang shalih tidak melampaui batas apalagi sampai melemahkan iman.   


Ini berbeda dari sikap kebanyakan manusia yang kadang tak memahami batas-batas kesedihan, terlalu larut dalam kegundahan dan kepedihan, merasa dirinya yang paling sengsara. Bahkan sampai-sampai ada yang berubah sikap dan karakternya secara signifikan. 

Biasanya, yang mengalami keadaan seperti itu adalah mereka yang memiliki kegersangan jiwa, lemah iman dan agamanya, dan minim pengetahuannya. 

Namun besar angan-angannya.

Sehingga tatkala apa yang sangat dicintainya hilang, ia seperti tak punya pegangan. Ada yang menjerit-jerit, stres, depresi, bahkan putus asa dan bunuh diri.

Ini berkaitan dengan segala urusan dunia dan segala perhiasannya.

Jangan sedih berkepanjangan, bisa menimbulkan penyakit.

Suatu ketika ada seorang ibu yang datang ke tempat kami.  Ada keluhan sekujur tubuhnya yang terasa sakit, tidak bertenaga, lemas sepanjang hari.

Mulai sore menjelang malam, keluhannya makin menjadi, tidak bisa tidur dan sangat gelisah.

Setelah beberapa lama diterapi tidak ada reaksi apapun, namun dari wajah yang sebelumnya terlihat sangat murung sudah mulai terbersit sinar cerah, semburat kesembuhan mulai nampak.  Keluhan sakit di tubuhpun sudah jauh berkurang.

Maha Besar Allah yang menjadikan al Qur'an sebagai obat.

Memang dalam terapi yang dilakukan, bukan reaksi badan apalagi kesan frontal dari pasien yang ingin diharapkan muncul seperti yang nampak kita lihat di channel youtube ataupun televisi yang mempunyai program ruqyah syar'iyyah.

Namun kesembuhan adalah prioritas pertama dan utama. 

Setelah kami tanyakan lebih mendalam sebab-sebab keluhan penyakitnya, awal-awal sebelum terjadinya sakit dan tidak enak di badan, maka terungkap bahwa penyakit yang dialami ibu ini berpangkal dari perasaan tertekan dan kesedihan yang mendalam yang dialaminya.

Artikel lain: Mudah menghilangkan kecanduan narkoba.

Memang berhubungan sangat erat dengan keluhan yang dirasakan ibu ini: Sesak bagian dada, jantung sering berdebar, cemas dan waswas, lemas di sekujur badan serta keluhan nyeri lambung kronis yang mengarah pada penyakit gerd.

Bermula dari seorang anaknya yang terjerat hutang kepada seorang rentenir, tidak bisa membayar cicilan hutang berbulan-bulan karena memang tidak punya pekerjaan tetap.

Pada puncaknya karena tidak bisa membayar hutang dan juga bunganya yang berlipat-lipat akhirnya rumah mereka yang menjadi jaminan disita secara paksa oleh rentenir tersebut.

Akhirnya mereka terusir dari rumah peninggalan almarhum orang tua si ibu tadi.

Sejak kejadian itu si ibu menjadi sangat berubah, terlihat murung sepanjang hari dan lebih suka berdiam diri.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, mulailah keluhan muncul: Dimulai dari bagian kaki yang terasa lemas dan lambung yang sering terasa perih dan kembung.

Setelah beberapa saat kemudian keluhannya bertambah banyak, sesak di dada dan rasa sakit di bagian kepala.

Walaupun sudah berobat ke dokter namun dirasakan belum banyak perubahan.

Sampai akhirnya diterapi ruqyah syar'iyyah dan diberikan nasihat-nasihat yang memotivasi akhirnya sudah terasa progres kesembuhan dari keluhan yang dirasakan.  Walaupun belum maksimal, namun insya Allah dalam terapi selanjutnya diharapkan keluhan sakit yang dirasakan akan menghilang.

Kasus ini sekali memberikan ibrah dan pelajaran bahwa mendatangkan kesedihan, kesusahan dan kerundungan dan menyimpannya dalam badan (baca: hati) seperti kita mencari sampah-sampah yang berserakan dan memasukkannya ke dalam tubuh, sudah pasti menimbulkan penyakit.

Saya banyak menemukan kasus yang mirip seperti yang dialami ibu tadi. 

Sedih yang berlarut adalah sampah, seperti juga emosi dan dendam.  Ketika kita mengalaminya bukan mencoba bertahan dan melawan akan tetapi dibuang dan di ikhlaskan.  

Boleh jadi ini bukan perkara mudah bagi yang orang yang terkena, tapi inilah jalan satu-satunya agar tubuh dan mental kita tetap sehat.

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ  الْقَلْبُ (اللفظ لالبخاري

"Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati". (HR al-Bukhari dan Muslim -redaksi lafazh dari al-Bukhari-)

Baca juga: Terapi homoseksual dengan al Qur'an.

Marilah kita membuat hati kita menjadi lebih ikhlas, ridha, tenang dan sehat, hilangkan kesedihan yang mendera maka seperti yang disebutkan dalam hadist diatas niscaya seluruh tubuh kita akan sehat.

Wallahu a'lam


Terapi ruqyah rumah sehat                                                  Jatisari, Jatiasih - Kota Bekasi 28 Desember 2020.

Tags: #jangan sedih



 









 



Tidak ada komentar:

Disqus Shortname

ads 728x90 B

Facebook

Diberdayakan oleh Blogger.